Thursday, August 19, 2010

THE BEST DEFENSE IS THE BEST EFFECT

Sabtu, 31 Juli 2010, tim putri Frat’z (SMA Frateran Surabaya, red) mempertaruhkan gelar champion-nya atas kemenangan mereka tahun lalu. Mereka berhadapan dengan SMADA (SMAN 2 Surabaya, red) yang semakin siap melangkah menuju final DBL (Development Basketball League) 2010 pada babak Fantastic Four lalu.
Teriakan suporter masing-masing tim menggema dari sudut ke sudut. Gerakan wave mereka lakukan berulang seiring masuknya para pemain kebanggaan mereka ke dalam lapangan.
Pertandingan dimulai. Fanny Yuwono dari SMA Frateran Surabaya dan Eva Fany dari SMAN 2 Surabaya didapuk sebagai pengeksekusi jumpball dari masing-masing tim. Bola jatuh di tangan SMADA. Spontan, mereka melakukan fast break, namun gagal karena steal dari Henny Sutjiono berhasil mematahkan passing tersebut. Henny terkenal dengan dribble cantiknya. Lay up yang ia lakukan acap kali berhasil menembus pertahanan lawan. Tapi, entah kenapa lay up-nya kala itu berhasil digagalkan oleh salah satu pemain SMADA yang mengakibatkan pemain itu terkena fouls dan Henny mendapatkan Free Throw. Pertandingan quarter pertama berakhir. Frat’z memimpin dengan score 13-2. Di quarter selanjutnya, SMADA mampu mengejar point sedikit demi sedikit melalui under-ring dan shooting para pemainnya.
Usaha SMADA pada quarter 2 belum membuahkan hasil. Score yang mereka dapatkan belum mampu menyamakan kedudukan dengan tim lawan. Hingga half-time, Frat’z masih unggul atas SMADA dengan score 31-9. Walaupun tertinggal jauh, suporter dari SMADA tetap mendendangkan dukungannya sehingga pada quarter selanjutnya SMADA yang didalangi oleh Eva Fany sang kapten semakin semangat dan berhasil mengejar ketinggalan. Tembakan three-point Olivia Listiarini berhasil ditandingi oleh pemain SMADA. Score-pun bertambah untuk SMADA Surabaya.
Permainan cepat yang dibawa oleh Frat’z mampu menambah kembali point bagi mereka. Counter attack dari SMADA juga tak kalah cantik, tapi sering kali tembakan dan under-ring pemain SMADA meleset dari ring. Defense rapat yang ditekankan oleh Njoo Soen Eng, pelatih Frat'z, mampu ditembus oleh pemain-pemain SMAN 2 dan menambah point bagi tim lawan. Lagi-lagi, Olivia Listiarini berhasil menembakkan three point-nya untuk kesekian kali.
“Kerjasama adalah kunci permainan kami, tidak ada egoisme dan tidak individualisme,” ungkap Henny Sutjiono pada saat press-conference.
Hal ini dibuktikan oleh semua pemain Frat’z dengan membangun teamwork yang kuat di lapangan. SMADA pun tak cepat menyerah, mereka kembali menyerang pertahanan Frat’z dengan baik dan mulus yang membuat coach Frateran menggelengkan kepala.
Usaha dan semangat SMADA patut diacungi jempol untuk melangkah ke final. Mereka mampu menunjukkan eksistensinya di lapangan. Namun sayang, permainan yang menentukan siapa yang lolos ke final bukan untuk SMADA. Dengan score akhir 58-32 atas SMADA, Frat’z mampu membuktikan bahwa mereka masih tangguh seperti tahun sebelumnya, menjadi champion DBL 2009. Teriakan bahagia suporter Frat’z terus menggema hingga para pemain meninggalkan lapangan.
“Walaupun tim kami tahun lalu menjadi Champion, kami tidak mau dianggap sombong karena bagi kami The Best Defense is The Best Effect,” ungkap Njoo Soen Eng.

SHE, THE THREE POINT SHOOTER

Decitan sepatu pemain terdengar dari tribun ke tribun. Hawa panas pun tak mau kalah dengan semangat Fratzholic dan Castlemania. Permainan menegangkan nampak didepan mata. Masing-masing tim berusaha untuk mendapatkan bola dan mencetak poin. SMA Frateran berkali-kali melancarkan tembakan three-point-nya dengan mulus melalui invisible hands Olivia Listiarini, seorang gadis kelahiran 8 Oktober 1993. Dialah shooting guard andalan Frateran.
Seketika point pada score-board di pojok ruangan berubah. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan Frateran atas SMAN 1 Puri, 51-12. Dua puluh tiga point disumbangkan Oliv (sapaan Olivia Listiarini) selama pertandingan berlangsung. Gadis yang memiliki tinggi badan 163 cm ini, mengaku shooting three-point-nya adalah sebuah kebetulan dan Ia yakin semua pemain basket yang memiliki posisi sama dengannya, mampu melakukan hal serupa.
Kenapa three-point? Karena Oliv memiliki masalah dengan lutut sebelah kanan dan mengharuskan lututnya dibalut dengan perban.
“Aku tadi banyak lari kecil. Gimana enggak, pas mau lari, eh lututnya enggak mau di ajak kompromi,” tambah Oliv disusul tawanya.
Gadis asli Surabaya yang juga alumni SMP St. Agnes ini, bersama teman-temannya pernah membawa tim basket SMP-nya menjadi runner up DBL sebanyak dua kali, dan hanya sekali mengalami kegagalan pada babak big eight beberapa tahun yang lalu.
Dalam kesehariannya, Oliv tinggal di Jalan Mulyo Sari bersama kedua orang tuanya, Gatot Gani dan Tania Margo. Anak kedua dari dua bersaudara ini memiliki prinsip dalam mengenakan sepatu basketnya. Satu sepatu untuk satu periode DBL. Sepatu dekil yang ia kenakan di lapangan adalah sepatu yang ia gunakan semenjak latihan hingga DBL berakhir. Sepatu penuh jahitan dan sobekan di sisi depan seperti itu yang ia sebut jimat, karena sepatu macam itulah yang selalu melekat pada kakinya hingga malam puncak final East Java series, Jumat 6 Agustus 2010 lalu.
Walaupun DBL tahun ini terasa seperti sebuah beban, namun permainan cantik selalu diberikan Oliv di setiap pertandingannya, karena menikmati permainan adalah prinsip utamanya. Supporter yang selalu memadati tribun DBL arena pun tak pernah kecewa, karena mereka selalu disuguhi performance indah dari teman-teman kebanggaan mereka. Supporter banyak bagi Oliv pun tak menggangunya. Mereka adalah motivator.
“Kami bermain untuk Tuhan, sekolah dan mereka (supporter),” tambah Oliv.
Gadis yang gemar nasi goreng ini, mengakui bahwa pertandingan DBL 2010 menjadi tahun terakhir dirinya berlaga di lapangan dengan membawa nama Frateran. Meskipun tahun ini adalah tahun terakhir, banyak pengalaman berharga yang ia dapatkan ketika dirinya terpilih menjadi nominasi DBL All Stars dan mengikuti Camp. Meskipun pada akhirnya Oliv tidak terpilih menjadi wakil Indonesia di DBL All Stars, ia tetap mendapatkan pengalaman dan banyak teman dari berbagai provinsi. Sebagai siswi kelas XII, Oliv sedikit demi sedikit mengurangi schedule basketnya dan memfokuskan segala pikiran menuju Ujian Nasional. Ia paham, basket tidak menjanjikan prestasinya, tapi dirinya-lah yang menjanjikan masa depan-nya.